JS Neo - шаблон joomla Новости

Berita Terbaru

TokohEngkong Saolin, Sang Administratur yang tak Tergantikan

Engkong Saolin, Sang Administratur yang tak Tergantikan

Published in Tokoh
Written by  06 July 2015
Rate this item
(0 votes)

h marhali dan h hasbullah

Pertama masuk pondok pesantren pada tahun 1980, saya tertawa mendengar nama Saolin. Terus terang saya teringat Shaolin Temple, biara yang jadi kawah candradimuka para wu-shu-in (pesilat kungfu) di Cina. Film khusus tentang biara itu sendiri dibuat pada tahun 1982 dan dibintangi oleh Jet Li muda. Ternyata yang dimaksud teman-teman adalah nama orang, Saulin Arief atau sehari-hari dikenal dengan panggilan Saolin, yaitu petugas administrasi Yayasan, yang khusus diperbantukan kepada Pimpinan Umum.

Pertama kali melihatnya, ternyata dia memang cocok dengan pekerjaannya. Postur tubuhnya tinggi, kurus, dan agak bongkok. Yang terakhir ini mungkin karena sudah tua. Sehari-hari ia memakai pakaian ala werknemers atau klerk, alias pegawai zaman normaal, istilah orang-orang tua untuk zaman penjajahan Belanda. Baju tangan pendek dengan dua kantung yang bertutup dan di kedua pundaknya ada tali kain yang berkancing, tempat meletakkan pangkat atau peci/baret. Celananya terbuat dari bahan khaki atau drill (seperti bahan yang digunakan untuk pakaian tentara) dan bermodel beigy, yaitu model zaman Republeiken. Celana model ini berukuran longgar di paha dan kecil di kaki, dengan rempel (lipatan) di pinggang. Di ujung bawah celana dirempel ke atas sehingga mirip celana yang digulung. Ke mana saja ia pergi, sebuah peci (songkok) pasti terpasang di kepalanya.

"Sempurna," gumam saya dalam hati. Pengalaman saya dengan guru-guru di sekolah sebelumnya, biasanya orang dengan tipe ini punya disiplin yang tinggi, teguh dalam memegang amanah, dan punya ketelitian yang tinggi terhadap hal-hal yang sepele. Ternyata dugaan itu benar adanya.


Asal Usul

Tidak banyak diketahui tentang asal muasal Saolin. Yang kita tahu adalah dia itu Asisten Wedana di zaman baehula ketika Pak Kiai masih menjadi Bupati (tepatnya ketua Dewan Pemerintahan Kabupaten Bekasi). Ketika Pak Kiai kembali ke kampung dan memimpin Yayasan, ia termasuk yang diajak untuk berbakti kepada Yayasan. Bisa jadi ia tidak tertarik berkhidmat kepada Yayasan, tetapi justru kepada Pak Kiai, karena di zaman itu nama yayasan belum sepopuler nama beliau. Kombinasi Pak Kiai dengan Saolin begitu kompak dan harmonis sehingga apabila seseorang melihat Pak Kiai berbicara dengan Saolin di tepi jalan Pondok atau di depan kantor Yayasan, pemandangan yang muncul adalah seperti seorang bupati yang tengah berbicara dengan ajudannya.

Soal loyalitas kepada Pak Kiai, jangan ditanya lagi tentunya. Akan tetapi, yang mengagumkan adalah kemampuan Saolin mengingat setiap perintah yang disampaikan kepadanya, tanpa dicatat. Berbeda dengan para sekretaris dan agendaris sekarang yang selalu mengandalkan notes atau PDA (Personal Data Assistant) di tangannya. Setiap tugas yang diminta, dikerjakannya dengan rapih dan tepat waktu, tak perduli sesibuk apa pun ia setiap harinya. Apabila tugas selesai, ia akan menunggu di kantor Yayasan sebelum Pak Kiai tiba, sedangkan waktu kerja Pak Kiai di Pesantren Putra adalah pukul 09.00 s.d. pukul 11.00. Setelah itu, beliau akan mengajar para santri di tingkatan Pesantren Tinggi. Seperti lonceng waktu, pas jam sembilan tiba, Pak Kiai pun datang dan memanggil Saolin ke ruangannya.

Rumahnya hanya terbuat dari pagar bambu dan letaknya di seberang jalan, tepat di pojok kiri Pondok Pesantren Putra, pas di tikungan. Rumah itu dibangun di atas tanah Yayasan yang dipinjamkan Pak Kiai untuk didiaminya, semacam rumah dinas. Dibanding rumah penduduk lainnya, bangunan itu masuk dalam kategori RSS (rumah sangat sederhana), bahkan kumuh. Akan tetapi, rumah itu selalu dikunjungi orang penting Yayasan dan Perguruan. Guru Madrais dan Guru Fatah, ketika masing-masing menjadi Sekretaris Perguruan, sering terlihat keluar- masuk rumah itu. Terkadang juga terlihat (Alm) Guru Basri, yang memegang urusan pertanahan Yayasan, atau (Alm) Guru Sa’duddin, dulu bendahara Yayasan, sedang asyik mengobrol dengannya.


Kebiasaan

Saolin punya kendaraan istimewa berupa sepeda ontel. Sepeda itu selalu mengilat, tanda terawat dengan baik. Apabila ia sedang mengendarainya, kereta anginnya itu berbunyi “tik-tik-tik”. Buat yang tahu tentang sepeda, hal itu berarti barang itu memang terpelihara dengan sempurna. Ketika melihatnya sedang mengayuh sepeda dengan pakaian kebanggaannya yang seperti werknemers itu, saya seperti melihat tokoh “Omar Bakri” (seperti yang digambarkan Iwan Fals dalam lagunya) itu hidup dan terpersonifikasi padanya.

Kebiasaan menggunakan sepeda ke mana-mana (ada cerita ia naik sepeda sampai Desa Teluk Pucung atau Kebalen, yang jaraknya sekitar 5 km dari Pondok) itulah nampaknya yang membuat tubuhnya sehat. Padahal ketika kami sempat bertemu, umurnya sudah sekitar 58 tahun.

Saolin nyaris tidak mengenal waktu dalam bekerja. Sering ia terlihat mengetik (“ngetep” menurut istilahnya sendiri. Mungkin dari bahasa Belanda/Inggris “type” diucapkan “taip” dan “tep”) selepas asar atau isya. Suara mesin tiknya berirama, tidak lambat dan tidak pula cepat. Kalau sudah mengetik seperti itu, ia seperti menyatu dengan alat tulis itu. Tidak mau diganggu dan tidak akan peduli dengan siapa pun yang datang. Demikian meleburnya ia dengan mesin tulis sehingga tidak heran kalau Guru Fatah pernah bilang postur Saolin seperti mesin tik.

Hasil ketikannya rapih, lurus tepi kiri dan kanan dengan format favorit zaman dulu yaitu semi-block style atau dikenal di zaman sekarang dengan nama European/office style. (Di persatuan pelajar/santri format yang lebih disukai adalah American style alias full block, mengikuti gaya surat di ormas pelajar/mahasiswa Islam seperti Pelajar Islam Indonesia (PII) atau Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)). 


Prestasi

Dalam sejarah Yayasan kami, sampai hari ini belum ada yang mengungguli rekor Saolin dalam soal kerapian administrasi. Mitos yang berkembang mengatakan bahwa Saolin, saking rapinya, mampu mencarikan suatu dokumen di rumahnya meskipun dalam situasi gelap tanpa cahaya. Tidak heran jika Pak Kiai sering merujuk Saolin sebagai rujukan. Sering terucap dari mulut pak Kiai pernyataan seperti “Lu kalah sama Saolin sih” atau “Kalau kerja kaya Saolin tuh.”

Karena penasaran, sekali waktu saya datang ke rumahnya. Dengan dalih mau belajar, saya mau melihat caranya menyusun administrasi dan kearsipan, terutama surat-menyurat. Pengetahuan ini sangat diperlukan karena waktu itu saya baru saja dipercaya menjadi sekretaris umum Persatuan Pelajar, amanat dari Sidang Pleno yang baru saja selesai.

Ia duduk dengan tenang ketika saya datang sore itu. Meja kerjanya yang sudah tua itu bersih dan rapi, nyaris tidak terdapat dokumen apa pun di atasnya, apalagi sampah. Berbeda dengan meja sekretariat kami yang menggunakan kayu kamper dan dilapisi dengan kaca, selalu penuh dengan tumpukan map. Dari situ saja saya sudah menangkap gaya kerja yang berbeda secara diametral; bukti dari jurang generasi alias generation gap. Ia mengantar saya ke lemari dokumen sederhana, berderet tiga, bentuknya seperti filing cabinet jaman sekarang, tapi tentunya lebih tua dan jelek. Ia membuka salah satunya dan menunjukkan barisan map dijejer rapih dengan nama-nama file di atasnya, diurut berdasarkan abjad. Sungguh luar biasa! Ini benar-benar jago tua rupanya.


Naik haji

Kami gembira ketika mendengar Engkong Saolin naik haji. Saat itu saya sudah berada di negeri lain untuk melanjutkan studi. Menurut cerita orang-orang, dia berangkat atas bantuan Yayasan. Sebab jika melihat pendapatannya yang pas-pasan sebagai juru administrasi khusus Pak Kiai, tak akan mungkin beliau bisa berangkat ke Tanah Suci. Kalau pun ada tambahan pendapatan, pastilah jatah beras yang diterimanya tiap bulan atau tiap musim panen tiba. Nampaknya pilihan Pak Kiai memberangkatkan Saolin ke Tanah Suci adalah pilihan tepat karena beberapa waktu berikutnya, tepatnya tahun 1992, beliau sendiri berpulang ke rahmatullah.


Tak Tergantikan

Saolin memang hanya seorang administratur, tetapi peran dan ketekunannya sampai kini tidak tergantikan. Sayangnya, ia hanya teringat oleh para santri, guru, dan pengurus Yayasan apabila terkait dengan administrasi dan urusan Yayasan. Setelah itu, Saolin seperti air sungai yang mengalir begitu saja.


Ketika Saolin dipanggil Ilahi Rabbi, baru terasa sekali kehilangan itu. Catatan dan administrasi kini berserakan di sana-sini dan tidak terkoordinasi. Padahal, zaman sekarang yang namanya alat-alat administrasi sudah maju. Komputer dan printer telah lama menggantikan mesin tik. Digital archive (arsip digital) sudah mengantar arsip fisik ke tempat pembuangan. Kemajuan teknologi ternyata belum bisa mengungguli pola pembinaan kepegawaian zaman kiwari.

Saolin memang tidak tergantikan, seperti kuil Shaolin yang melegenda itu. Bedanya adalah Saolin tidak melakukan kaderisasi, tetapi ia meninggalkan kekaguman dan decakan bagi generasi berikutnya.

Semoga Allah SWT membalas loyalitas dan bakti Anda, Engkong Saolin. Semoga Allah membalasnya dengan balasan yang sebaik-baiknya. Anda pasti ditunggu kekasih Allah di sana, yang juga majikan Anda dan guru kami termulia, Pak Kiai Almaghfurlah.

 

_______________________________________________

Kosakata

  • Pak Kiai = Almaghfurlah KH Noer Alie, pendiri dan pimpinan umum YP3, (sekarang Yayasan Attaqwa) Ujungharapan, Bekasi Utara
  • Pondok = Pondok Pesantren Attaqwa, Ujungharapan, Bekasi Utara
  • Yayasan = Yayasan Pembangunan, Pemeliharaan dan Pertolongan (YP3), sekarang menjadi Yayasan Attaqwa
  • Perguruan = Perguruan Attaqwa, divisi di bawah Yayasan

Persatuan Pelajar = Persatuan Pelajar Attaqwa (PPA), organisasi pelajar dari tingkat Tsanawiyah sampai Aliyah

 

Sumber : Blog Cecep Emha, 20 April 2010

 

noeralie

bukukhnoeralie