JS Neo - шаблон joomla Новости

Berita Terbaru

BeritaUmumMenghadirkan Kembali Guru Mengaji

Menghadirkan Kembali Guru Mengaji Featured

Published in Umum
Written by  13 July 2015
Rate this item
(1 Vote)

kampungsurgamengajiAsimilasi atau peleburan antara masyarakat pendatang dengan penduduk asli atau pribumi kini tengah terjadi secara besar-besaran di daerah Bekasi dan sekitarnya selaku penyangga Jakarta. Permukiman berupa perumahan dan perkavlingan menjamur. Hal ini berdampak pada perkembangan pendidikan di lembaga yang dinaungi Attaqwa.

Salah satu sekolah yang terkena dampak asimilasi ini adalah Madrasah Ibtidaiyah Attaqwa 03 Albarkah, Ujung Harapan. Saat ini jumlah siswa yang berasal dari masyarakat pendatang sama banyaknya dengan penduduk asli.

“Jumlah siswa dari masyarakat pendatang kami batasi agar penduduk pribumi mendapat porsi yang cukup,” ucap Drs. H. Murdani Wardi, Kepala MIA 03 Albarkah.

Tak sebatas jumlahnya yang terus bertambah, kemampuan membaca Alquran masyarakat pendatang lebih baik daripada penduduk pribumi. Mereka lebih lancar membaca Alquran.

“Masyarakat pendatang di perumahan atau kavlingan memiliki kehidupan ekonomi yang relatif lebih stabil, bahkan dikatakan lebih baik. Mereka juga memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi tentang pentingnya pendidikan, apakah itu pendidikan umum maupun pendidikan agama. Mereka menyiapkan anggaran untuk mengaji dan les. Musala-musala yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka menjadi tempat untuk belajar mengaji. Guru-gurunya berasal dari masyarakat pribumi alumni Pondok Pesantren Attaqwa. Guru-guru ini mereka bayar. Otomatis, kegiatan mengaji di masjid atau musala perumahan berjalan lebih intens,” ungkap H. Murdani menjelaskan.

Ujung Harapan dulu memang dikenal dengan guru-guru mengajinya yang hebat. Di antaranya adalah Almarhum KH Mohammad Hasan Lathif. Beliau adalah seorang hafiz (penghafal Alquran) yang dikenal sebagai juri musabaqah tingkat nasional. Pada siang hari, ia mengajar anak-anak dan remaja untuk mengaji Alquran, sedangkan pada malam harinya ia membimbing para orang tua dalam majlis pengajian.

“KH Mohammad Hasan Lathif atau yang lebih dikenal dengan Guru Muhammad di Ujung Harapan mengajarkan Alquran dengan metode baghdadiyah. Murid-muridnya dikenalkan dengan jenis huruf satu persatu, mengejanya, lalu membacanya dengan tartil. Metode ini, tidak hanya memudahkan murid untuk membaca dengan lancar dan tartil, tetapi juga memudahkan mereka yang suka belajar tata bahasa Arab seperti ilmu nahwu dan sharaf,” ucap Ustaz H. A. Zarkasyi, murid sekaligus adik ipar beliau.

H. Abdul Hayyi Alkattani, doktor bidang akidah dan filsafat Islam dari Universitas Al-Azhar, Mesir yang merupakan murid KH Mohammad Hasan Lathif, menyampaikan metodologi pengajaran gurunya dan bagaimana kesannya tentang beliau. Menurutnya, “Metode pengajaran membaca Alquran yang digunakan oleh Almarhum KH Mohammad Hasan Lathif adalah dengan cara face to face atau sorogan. Ini adalah sistem yang sampai saat ini terus dipakai dalam pendidikan membaca Alquran di seluruh dunia. Di samping itu, beliau juga memegang sanad keilmuan qiraat Alquran. Ini menjadi bukti orisinalitas keilmuan yang beliau ajarkan.”

Salah satu kelebihan KH Mohammad Hasan Latif dalam mengajar muridnya mengaji adalah ia tidak mengharuskan para muridnya untuk membayar. Mereka dipersilakan datang untuk belajar kapan saja. Di samping rumahnya telah disediakan sebuah aula yang luas untuk murid mengaji. Ia juga menyediakan asrama bagi murid yang ingin bermukim.  

“Alhamdulillah, sebelum saya ke Kairo, saya sempat membaca beberapa qira`at dengan beliau, di samping tentunya qiraat Hafsh 'an 'Ashim. Sebagai seorang yang beberapa tahun belajar Alquran kepada beliau, saya mendapati Almarhum sebagai sosok yang penuh dedikasi dalam mengajar. Hari-harinya selalu diisi dengan pengajaran Alquran, dari habis shubuh, siang, hingga malam. Ini adalah sesuatu yang perlu ditularkan ke generasi berikutnya sehingga tongkat estafeta pengajaran Alquran ini ada yang melanjutkannya,” ucap H. Abdul Hayyi Alkattani.

Saat ini telah terjadi pergeseran paradigma (pola pikir) masyarakat tentang biaya pendidikan. Kalau zaman dahulu, guru-guru mengaji mengajarkan Alquran dengan keihklasan yang luar biasa, kini guru-guru mengaji membutuhkan biaya untuk kelancaran prosesnya. Hal ini disadari sepenuhnya oleh masyarakat pendatang sehingga mereka mengalokasikan dana untuk mendatangkan guru-guru muda lulusan Pondok Pesantren Attaqwa untuk mendarmabaktikan ilmu bacaan Alquran-nya kepada anak-anak dan generasi muda di lingkungannya. Namun, kesadaran ini kurang dimiliki penduduk pribumi yang mayoritas masih beranggapan bahwa belajar mengaji tidak perlu mengeluarkan administrasi tertentu. Alhasil, kemampuan membaca Alquran masyarakat pendatang jauh lebih baik dari masyarakat pribumi.

“Di sinilah seharusnya musala, khususnya yang berada di bawah naungan Dewan Masjid Attaqwa, berperan lebih. Anak-anak remaja yang tergabung dalam Ikatan Remaja Attaqwa (IKRA) harus memainkan peranannya kembali untuk melakukan pembinaan dalam pembelajaran Alquran sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Almagfurlah dahulu. Remaja-remaja di tiap-tiap musala aktif mengajarkan generasi muda untuk pandai membaca Alquran,” harap Ali Anwar Shomad, Kepala Bidang Awqaf Yayasan Attaqwa.[NAM]

noeralie

bukukhnoeralie